Selasa, 21 Agustus 2018

ILUSI PIKIRAN

ANTARA KEBAHAGIAAN, PENDERITAAN, DAN ILUSI PIKIRAN

"Banyak manusia menderita, ketika kehidupan setiap saat memberikan beragam keajaiban, dan mempersembahkan keindahan hidup kepada dirinya.."

Dari pengalaman saya, ketika saya:
Tidak benar-benar hadir dan menyatu dengan kehidupan..

Terseret dalam ilusi pikiran, dan terjebak dalam pusaran emosi dan perasaan..

Terbelenggu dalam ego ke'aku'an, dan terpisah dengan kehidupan..

Ketika itulah saya terjebak dalam kubang penderitaan..

Namun, ketika saya:
Menyatu dan melebur dengan kehidupan..

Menikmati setiap momen, setiap keajaiban, dan keindahan kehidupan..

Menyadari ilusi permainan pikiran, lepas dari jebakan emosi, ego, dan hidup dalam ke'kini'an..

Seketika tubuh, pikiran, dan perasaan saya diliputi rasa damai, bahagia yang tak terkatakan..

Seringkali kebahagiaan datang, saat saya mengijinkan diri untuk "hadir" dalam kehidupan..

Hanya dengan memperhatikan semut-semut kecil yang sedang berputar-putar mencari makanan..

Mengamati ulat yang sedang mengunyah daun dengan perlahan..

Menikmati tarian dan kicau burung dipagi hari..

Memandang kedipan jutaan bintang dimalam hari..

Menyadari setiap tetesan air hujan yang turun menyentuh bumi..

Seketika itu juga saya menemukan banyak keajaiban, keindahan, dan merasakan kebahagiaan..

Ya, ketika saya hidup seperti anak kecil..

Yang selalu "terkagum-kagum" dengan hal-hal yang ada disekitar..

Yang asik sekali memunguti daun kering yang berguguran, memetik kembang, menciumnya, dan mengamati keindahan warnanya dengan penuh kekaguman..

Berlari-lari kecil menikmati setiap ayunan langkah kaki yang menyentuh basah rerumputan, mengejar kupu-kupu, bergembira dalam guyuran air hujan..

Dan segala hal yang dianggap kecil dan remeh temeh oleh kebanyakan orang dewasa..

Disitulah saya menyadari,
Sesungguhnya, kebahagiaan masa kecil saya tidak pernah hilang..

Saya lah yang telah pergi "menghilang" dan "menjauh" dari kehidupan..

Itulah kenapa, banyak "orang dewasa" yang semakin rentan mudah jatuh sakit..

Mudah stres, depresi, terluka, sakit hati, kecewa, dendam, dan segudang jenis penderitaan lainnya..

Mereka menjadi "pecandu derita" bukan karena "kekurangan bahan" untuk bahagia, tapi karena "terlalu banyak bahan" yang dijadikan alasan dan pembenaran atas penderitaannya..

Termasuk hobbynya memikul "beban derita", delusi, dan "ilusi masalah" yang diciptakan dalam pikirannya..

Beban derita itu bisa berasal dari masa lalunya, masa kini, ataupun dari masa depannya..

Hingga..
Hidup yang sedemikian cantik dan indah, Menjadi terlihat buruk rupa, dan "menyeramkan" baginya..

Hidup yang semestinya ringan, terasa menjadi begitu berat, "seberat-berat"nya..Salam bch

Sumber : Coach Nurhadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar